#social #self-improvement

Tampilkan postingan dengan label #social #self-improvement. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #social #self-improvement. Tampilkan semua postingan

Jumat, 09 Agustus 2013

Kesalahan Itu Ibarat Cucian


Sebelumnya dari hati yang paling dalam-sedalam-dalamnya aku ucapkan maaf, jika ada kesalahan-kesalahan saya, baik kepada kamu, kamu, kamu, kamu dan kamu, termasuk juga mantan-mantan eh, atau orang-orang yang pernah merasa kalau saya udah pernah bersalah kepadanya walaupun sebenarnya saya gak ada salah sama sekali. :p. Nah buat kamu yang ngerasa udah pernah buat salah kepada saya, dengan tulusnya lebih dari setulus-tulusnya gebetan kamu yang udah kamu tolak dan anggap teman doank... aku maafin kamu deh....hohoho

Sekali lagi saya ucapkan selamat Hari Raya Idul Fitri yang ntah keberapa tahun Hijriah... soalnya gak ngikutin perkembangannya, tapi saya tetap merasakan semaraknya Hari besar yang luar biasa bagi yang merayakannnya. karena saya juga merasakan semarak yang sama luarbiasanya di hari besar yang saya anut, jadi terbiasalah.

Seperti biasa tiap tahun ketika Lebaran datang, akan ada broadcast Blackberry, pesan, sms, email, dsb yang masuk ke inbox jadi penuh.. penuh dengan kata-kata maaf, walaupun sebenarnya tiada maaf bagimu, ehh maksud saya kamu tidak perlu minta maaf karena kamu gak pernah salah sama saya, dan jikapun ada saya udah maafin dari dulu-dulu kala.

"Maafkan aku." adalah dua kata sederhana namun kadang sulit untuk mengatakannya. Tapi akan lebih mudah mengucapkannya untuk hal-hal yang sederhana misalnya ketika kita menyenggol seseorang yang lagi jalan saat kita terburu-buru, bahkan ketika kita berusaha untuk menegur seseorang.

Ngomong-ngomong tentang maaf, tentunya sebelumnya pasti karena ada kesalahan yang udah kita buat ke oranglain, baik sengaja ataupun tidak sengaja, secara sadar maupun tidak sadar, terkadang kita hanya mengabaikannya dan gengsi untuk minta maaf, akhirnya numpuk-numpuk-numpuk dan numpuk udah kayak cucian, jadi akhirnya semakin berat untuk meminta maaf, sehingga yang tingga hanya rasa penyesalan yang menggerogoti hati kita jadi ga baik,,ehh hati kita,,, hohoho...

Kesalahan itu kayak cucian, kalo gak dicuci, makin numpuk jadi semakin males nyucinya, sama seperti masalah dan kesalahan juga, semakin lama dan semakin numpuk semakin berat untuk nyelesain, nanggung cuma untuk nyuci 1-2 potong baju, akhirnya cucian ditumpuk terus sampai menggunung gunung Himalaya, sampe mau mati nyucinya, (cerita ini sesuai dengan realita anak kost.) Masalah itu seperti rendaman cucian, semakin lama direndam semakin membangkee lahh itu. bauk!!.. sampe kita sendiri aja mau muntah nyiumnya, udah taukan baunya gimana?? ah sudahah.. Buat menghilangkan bau baju yang udah terendam lama, tentu butuh tenaga dan waktu ekstra untuk membersihkannya. Sama juga kayak masalah dan mintamaaf yang ditunda berlarut-larut.

Beberapa masalah itu kayak tumpukan kain kotor, masing-masing ada cara dan solusi untuk membersihkan, jangan campurkan yang berwarna dan putih polos. Cucian kamu itu masalahmu, jangan campur cucian kamu sama cucian orang lain, bayangin sendiri deh gimana Kalau kolor yang tertukar. mau? Jangan banyak berharap juga agar cucian kamu dicuciin oranglain, karena setiap orang punya cuciannya dan masalah yang harus mereka selesain juga.

Cucian yang udah direndam kelamaan, pasti akan meninggalkan bau. itu mungkin tak terpikirkan sebelumnya, terima aja dan nikmati konsekuensinya. Nah, kalo rendaman udah jadi bauk bangke, mau gak mau harus dibuang, toh daripada nyusahin baunya ya mending yang beli baju baru, yah kalo udah kotor langsung dicucilah . Cucian (masalah) akan datang silih berganti, ntah dicuci lama, dicuci sering direndam lama, biarlah pakaian yg kamu pakai yang berbicara .



Meminta maaflah duluan karena itu gak buat diri kita jadi rendah dan dia menjadi lebih tinggi, ntah dimaafin atau engga itu urusan belakangan, ya TAPI kalau udah minta maaf ya jangan minta-minta maaf lagi apalagi sampe ngemis minta maaf!! itu sama aja ngerendahin diri, pertegas kalau kamu memang salah dan menceritakan hal yang sebenarnya.

Entah orang itu mau nerima permintaan maaf kamu atau enggak. ya kalo mereka melakukannya, maka tidak ada lagi masalah, tidak ada lagi pihak yang merasa direndahkan atau merendahkan diri. Jika dia nggak terima, maka artinya orang tersebut gak mau percaya lagi, yasudah dan mungkin masih ada masalah lain yang perlu diperbaiki dan tidak perlu diperbaiki sama sekali  alias udah rusak pake parah banget. nevermind.

Sekali cukup untuk buktikan rasa minta maaf dengan tindakan walaupun sebenarnya beberapa orang tidak begitu peduli juga sih, tapi tetap lakukan jika itu membuat diri kita jauh lebih baik, sebaiknya akan sedikit respect atau bahkan tidak ada respect sama sekali jika permintaan maaf yang kita lakukan tidak sesuai dengan tindakan itu, dan parahnya itu malah makin ngerendahin diri kamu dimata mereka, so think again guys.
.
Yang paling terakhir nih, setelah meminta maaf, berhenti memikirkannya, karena hidup akan terus berjalan, kayak kamu udah baca blog ini gak terasa udah berlalu 10 menitan lho. yah caranya cukup dengan memulai bertindak dengan cara yang menunjukkan kalo kamu udah tulus meminta maaf, karena apa yang kamu lakukan bukan sekedar untuk mereka, tapi sebenarnya kamu telah melakukan yang terbaik untuk dirimu sendiri.

I hope this article is making sense, but you truly need to know what to do here. Yes that's right Yap!! silahkan mencuci. X)

Saya terima maaf kamu, maafkanlah aku,
yang memaafkanmu..


@AndikSiboro

Rabu, 12 Desember 2012

Lulu Syifa's Blog: Remaja Di Social Media



Remaja Di Social Media








Pernah gak liat status kayak gitu di home kalian? Berdoa kok di status, emangnya Tuhan punya facebook? #mikir




Gimana gak bingung, orang gue baca tulisannya dia aja bingung -_____-“

Tapi itu sih lebih mending dari pada status-status ini








*Deg* rasanya kalo udah liat status kayak gitu. Apalagi misalnya orang yang bikin status itu orang yang kita kenal.


Hmmm...

Zaman sekarang perasaan orang bisa ditebak lewat statusnya, lewat tweet-tweetnya. Karena apa? Karena gak sedikit remaja yang perasaannya lebih terbuka didunia maya dari pada sama orang tuanya. Termasuk Syifa juga sih

Dunia maya emang gak pernah ada matinya. Termasuk Syifa juga “terjaring” didalamnya. Rasanya seru aja, tanpa harus keluar rumah kita bisa chatting sama orang-orang diluar sana. Tapi kalo Syifa sih, memanfaatkan dunia maya gak cuma buat ngobrol aja. Tapi juga berkarya,misalnya menulis cerita.

Akan lebih berguna banget kalo akun social network kita dipake buat hal yang bermanfaat, gak cuma dipake tempat curhat. Misalnya masuk ke grup-grup kece di facebook dan ngembangin diri disana, atau mungkin jualan di facebook. Yah, Syifa sih lebih setuju sama kegiatan online shop yang promosiin barangnya di facebook. Seenggaknya kegiatannya kenilai lebih bermanfaat dari pada pake facebook cuma buat kayak gini




Kasian banget. Like aja minta-minta -____-“


Apalagi kayak gini





Prihatin banget, padahal gak setiap cowok kayak gitu yah coba kalo dia single aja #eh jomblo cari temen

Socmed ternyata ada plus-minusnya. Tergantung penggunanya aja. Jangan sampe deh kita lebih terbuka didunia maya dari pada sama orang tua. Aktivitas harus dibatasin juga, jangan sampe diculik sama kenalan baru di socmed kayak di Tv-Tv gitu ih takut >_<

Yahaaa segitu aja sih postingannya.


Salam Cipa Cacing :D


***


Diketik Oleh Lulu Syifa Fauziah Pada 4/09/2012 09:37:00 PM

Selasa, 11 Desember 2012

Apakah Anda Pria Dewasa?




Originaly post: hitmansystem.com
 Ayah saya adalah anak ketiga, putra pertama, dari 11 bersaudara. Pada waktu itu mitos “banyak anak banyak rejeki” masih mengakar kuat dan belum ada KB ataupun alat kontrasepsi, jadi orang-orang pada jaman itu beranak pinak seperti kelinci.Logika orang pada waktu itu sederhana, bagi warga desa yang sebagian besar adalah petani, memiliki anak banyak akan sangat bermanfaat karena anak-anak mereka bisa menjadi tenaga kerja murah meriah. Punya banyak anak adalah sebuah trend di kalangan suami-istri di jaman itu.

Masalahnya, kakek saya bukan petani. Beliau membuka usaha toko foto di sebuah kota kecil di Lampung, dan untuk membiayai 11 anak bukanlah hal yang mudah. Solusi yang dilakukan para orang tua pada jaman itu adalah: anak wanita secepatnya dinikahkan agar lepas dari tanggung jawab finansial orang tua, anak pria pergi merantau dan hidup mandiri menjalani kehidupannya sendiri. Ayah saya mulai merantau dan pergi dari rumahnya sejak usia 17 tahun. Keluar dari pulau Sumatera dan tiba di pulau Jawa untuk mengadu nasib. Mulai dari kerja membantu saudara, hingga menjadi salesman keliling. Pada masa itulah beliau bertemu dengan ibu saya, keduanya jatuh cinta, dan menikah. Ayah saya berusia 25 tahun dan ibu saya 20 tahun ketika menikah. Setahun kemudian, lahirlah saya. Anak pertama yang chubby dan super imut. Di usianya yang baru 26 tahun, ayah saya sudah menjadiseorang wiraswatawan, suami, dan ayah sekaligus.Tapi kisah ayah saya bukan sebuah kisah yang unik. Pada waktu itu hampir semua pria melakukan hal yang sama. Saya yakin kisah yang mirip juga terjadi dalam keluaga Anda. Bagaimana ayah Anda merantau, keluar dari rumah, hidup mandiri, dan membentuk keluarga di usia yang relatif masih muda untuk ukuran jaman sekarang. Itu pula sebabnya ayah saya dan ayah Anda terlihat begitu matang dan penuh pengalaman, seorang pria dewasa yang seutuhnya.Apakah Artinya Dewasa?Seseorang dianggap dewasa secara biologis ketika sudah melewati masa pubertas dan matang secara seksual yang memungkinkan dia untuk bereproduksi dan memiliki keturunan. Dewasa secara hukum di negara kita adalah ketika seseorang mencapai usia 17 tahun, di mana dia dianggap sebagi sebuah entitas yang independen, memiliki KTP, berhak untuk bekerja, untuk menikah, dan untuk ikut serta dalam pemilu. Seseorang juga biasanya dianggap dewasa ketika sudah menikah, tapi di jaman modern ini, pernikahan adalah sebuah pilihan dan tidak lagi menjadi sebuah keharusan. Tentu saja kita semua mengerti, bahwa kedewasaan bukan hanya soal biologis, legalitas dan pernikahan, tapi juga tentang kematangan emosional dan karakter seseorang. Kemampuan untuk mengambil keputusan yang benar, dan bersikap dalam berinteraksi dengan dunianya serta orang lain.Lalu bagaimana caranya mengukur kedewasaan emosional seseorang? Coba lihat kisah yang terjadi di sekitar kita sekarang. Kedewasaan dalam diri seorang pria sudah menjadi sebuah unsur yang sangat teramat langka. Pria dewasa yang matang adalah spesies langka di jaman sekarang, coba saja tanya pada para wanita bila Anda tidak percaya. Itu sebabnya banyak wanita lebih tertarik pada pria yang jauh lebih tua, itu sebabnya Anda banyak melihat wanita muda cantik rela menjalin hubungan dengan pria beristri, karena citra kedewasaan yang terpancar dari mereka. Meskipun pria tersebut belum tentu juga memiliki kedewasaan emosional, tapi paling tidak, menjalin hubungan dengan pria yang TERLIHAT dewasa terasa lebih nyaman bagi wanita dibanding dengan pria yang sebaya.Begitu banyak permasalahan hubungan romansa yang saya dengar, baik itu dari teman, klien konsultasi, maupun sekedar dengar sana-sini, berakar dari ketidakdewasaan sang pria. Ketidakmampuan sang pria untuk bertanggung jawab, mengambil keputusan, menerima konsekuensi, dan mengatasi konflik, berujung menjadi masalah serius yang membawa penderitaan dan kesedihan: hamil di luar nikah, MBA (Married By Accident -- nikah terpaksa karena hamil), aborsi, perceraian, kekerasan dan penganiayaan dalam hubungan, dan sebagainya.


Kebanyakan pria jaman sekarang adalah bocah-bocah egois kekanakkan, bedanya hanya pada bulu kemaluan dan jenggot. Pria-pria egois anak mami yang tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri, memiliki emosi yang tidak stabil, suka ngambek, pencemburu, posesif, ngarep kronis, selalu nurut pada orang tua, dan yang terparah, bersikap kasar dan memakai kekerasan terhadap wanita untuk mengatasi konflik. Persis seperti seorang bocah cilik yang suka ngambek dan hobi menjahati anak lain yang lebih lemah daripadanya. Saya melihat ini sebagai sebuah permasalahan sosial yang serius.Kenapa bisa jadi begini? Apa yang sebenarnya terjadi? Jawabannya ada pada kisah ayah saya, dan cerita ayah-ayah Anda semua yang mirip dengan kisah diatas.Kisah Pria Masa KiniPertumbuhan dan kemajuan ekonomi membuat generasi kita tidak perlu lagi mengalami keterpaksaan untuk hidup mandiri seperti ayah-ayah kita dulu. Begitu lahir, segala sesuatunya sudah tersedia. Makanan, tempat tinggal, edukasi, dan uang jajan, adalah hal-hal yang langsung kita miliki. Hal-hal yang pada jaman dulu adalah sebuah kemewahan sudah menjadi hal yang normal dan wajar. Ditambah lagi dengan orang tua kita yang ingin memastikan anaknya selalu terpelihara tanpa kekurangan suatu apapun, membuat mereka enggan untuk melepas anaknya untuk hidup mandiri. Tanpa disadari, hal ini membuat pria-pria menjadi anak mami yang manja.Dewasa ini kita bisa melihat di sekeliling kita, pria-pria yang bahkan di usia di atas 30 tahun masih tinggal dengan orang tuanya dan bergantung secara emosional pada orang tuanya. Khususnya, sang ibu tercinta. Makan masih dimasakin mama, pergi larut malam masih dicariin mama, segala keputusan besar harus dengan persetujuan mama, masalah pacar pun harus sesuai kriteria yang mama inginkan. Jujur saja, tinggal bersama orang tua memang nyaman tapi ketika Anda tidak bisa mengurus diri sendiri dan mengambil keputusan sendiri, Anda tidak akan pernah bisa menjadi seorang pria dewasa seutuhnya.Satu hal yang harus diingat, kedewasaan yang saya maksud tidak ada hubungannya dengan mandiri secara finasial. Karena saya melihat begitu banyak pria dengan karir dan bisnis yang sukses tapi memiliki sifat egois yang kekanakkan bila berhadapan dengan pasangannya dan menjadi bocah tukang ngambek di hadapan orang tuanya. Seorang bocah ceroboh yang tidak pernah berpikir panjang, karena dia tahu bahwa bila terjadi sesuatu yang tidak enak, dia tinggal berlindung ke balik ketiak mamanya.Bagaimana mungkin Anda menjadi pria dewasa yang seutuhnya bila orang tua Anda saja tidak menganggap Anda dewasa dan selalu melihat Anda sebagai anak kecil yang harus diatur-atur dan dijaga? Coba dipikirkan..Konflik Anak vs. Orang TuaSaya TIDAK menganjurkan Anda untuk melawan dan menentang orang tua, jangan sampai salah paham! Justru tindakan melawan dan menentang adalah sikap seorang bocah ingusan yang tidak memiliki kendali. Seorang pria dewasa harus memiliki kapasitas emosional untuk tidak melawan, tetap mencintai orang tuanya, tapi juga mengerti bahwa yang menjalani hidupnya adalah dirinya sendiri. Saya mengajak Anda untuk mulai bersikap sebagai pria dewasa yang mampu mengambil keputusan bagi hidup Anda sendiri. Orang tua ingin anaknya aman sejahtera dalam kandang, tapi anak ingin terbang bebas dan mengarungi kehidupan, terciptalah sebuah konflik kepentingan. Konflik antara anak dan orang tuanya adalah salah satu konflik utama dalam perkembangan diri seorang manusia, bagaimana cara Anda mengatasi konflik inilah yang akan menentukan kedewasaan Anda di mata orang tua. Bila Anda tidak bisa menyelesaikan konflik dengan orang tua Anda sendiri, bagaimana mungkin Anda bisa menyelesaikan konflik dengan orang lain dan pasangan Anda? Bila Anda tidak bisa mengkomunikasikan dengan baik dan membuat orang tua Anda sendiri mengerti tentang keinginan hati Anda, bagaimana mungkin Anda bisa melakukan hal tersebut pada orang lain dan pasangan Anda? Bila jalan hidup Anda masih ditentukan oleh orang tua Anda, bagaimana mungkin Anda bisa menjadi pemimpin bagi wanita yang menjadi pasangan Anda? Bila Anda sendiri manja dan selalu mencoba menyelesaikan konflik dengan cara marah, ngambek, ataupun cuek menghindari masalah, bagaimana mungkin Anda bisa mengayomi wanita pasangan Anda yang juga manja dan tukang ngambek? Wajar saja bila hubungan Anda dengan wanita selama ini selalu penuh dengan konflik yang tidak terselesaikan, Anda dan pasangan Anda seperti dua bocah egois yang selalu bertengkar dan saling ngambekan. Putus-nyambung, putus-nyambung seperti koneksi intrenet dengan modem murahan.Menjadi Pria DewasaMenjadi dewasa adalah sebuah proses yang akan terus berlanjut seumur hidup, sebuah proses tiada henti untuk menjadi pribadi yang lebih baik setiap harinya. Saya juga tidak bisa mengaku bahwa saya sudah dewasa sepenuhnya, tapi paling tidak saya bisa memberikan beberapa tips dan acuan untuk membantu Anda:
  1. Mandiri secara finansial. Ini adalah langkah pertama menuju kedewasaan. Tidak mungkin Anda bisa dianggap dewasa oleh siapapun, bila makan dan beli hand-phone saja masih minta pada orang tua. Miliki pekerjaan yang layak dan hidupi diri Anda sendiri, ini adalah ukuran kedewasaan universal yang berlaku di seluruh dunia.
  2. Bersikaplah sebagai individu yang independen di hadapan orang tua Anda.Ingat, meskipun mereka adalah sosok yang membesarkan Anda, tapi saat ini posisi Anda dan mereka sama-sama manusia dewasa dengan harkat dan martabat yang setara. Anda wajib menghormati orang tua Anda, sebagaimana orang tua Anda juga wajib menghargai Anda sebagai individu yang dewasa. Bicarakan segala konflik dengan baik-baik, Anda tidak perlu menentang tapi Anda juga tidak harus menuruti segala keinginan mereka. Tentukan batasan yang jelas tentang apa yang bisa mereka atur dalam hidup Anda, dan apa yang menjadi hak asasi Anda.
  3. Berpikir panjang dalam mengambil keputusan dengan mempertimbangkan segala resiko. Ada begitu banyak masalah dalam hidup Anda yang bisa dihindari dan tidak perlu dialami, bila Anda mau sedikit saja berpikir dan melihat segala resiko yang ada. Jangan tergesa-gesa mengambil keputusan. Sebagai pria dewasa, sudah seharusnya Anda memiliki kemampuan untuk menganalisa setiap permasalahan dengan logis dan mengambil keputusan yang terbaik, terutama bagi diri Anda sendiri, dan juga bagi orang lain di sekitar Anda. Penyesalan terjadi akibat kelalaian seseorang mempertimbangkan resiko ketika mengambil keputusan, dan ketika penyesalan datang, segala sesuatunya sudah terlambat. 
  4. Terima segala konsekuensi dan jangan menyalahkan orang lain. Meskipun sudah berpikir matang dalam mengambil keputusan, tapi terkadang hal-hal tidak berjalan sesuai dengan yang direncanakan dan Anda harus mengalami pengalaman yang pahit dan tidak enak. Tapi sebagai pria dewasa, tugas Anda adalah untuk menerima semua itu dengan lapang dada dan tidak menyalahkan siapapun, ingat semuanya adalah hasil keputusan Anda. Jadikan itu sebagai pelajaran berharga.
  5. Kendalikan diri dan emosi dalam menghadapi konflik. Hanya bocah ingusan yang selalu mengikuti emosinya dan tidak bisa mengendalikan dirinya, tapi Anda sudah bukan bocah lagi sekarang, jadi belajarlah mengendalikan diri dan emosi Anda. Memang tidak bisa instan, karena pengendalian diri adalah sebuah skill yang hanya bisa dikuasai lewat proses latihan yang panjang. Buang kebiasaan memaki dan berkata-kata kasar, dan ganti dengan kebiasaan mengekspresikan pikiran lewat komunikasi baik-baik.
  6. Hormati dan hargai setiap orang sebagai sesama manusia. Sebagaimana Anda berhak untuk diperlakukan dengan baik selayaknya seorang manusia, maka Anda juga wajib untuk memperlakukan orang lain dengan baik dan menghargai hak individunya. Sebagai anggota masyarakat, Anda harus mengerti norma-norma sosial yang berlaku dan bersikap sesuai norma-norma tersebut ketika berinteraksi dengan setiap orang. Hargai dan terima perbedaan, karena Anda hidup dalam dunia yang terdiri dari beragam jenis orang. Ketika Anda terbiasa melakukan hal-hal diatas, maka tidak akan sulit bagi Anda untuk menerapkannya dalam konteks hubungan romansa dengan pasangan Anda. Hubungan Anda akan menjadi lebih sehat, saling menghargai, lebih memuaskan, dan Anda pun akan merasa lebih bahagia. Ketika Anda bahagia, pasangan Anda pun akan bahagia. Bukankah itu yang Anda inginkan?

    Tinggalkan sang bocah dalam diri Anda, dan berdirilah sebagai pria dewasa.\
Sahabat Anda,


Rabu, 14 November 2012

Konsep Diri





Konsep diri adalah suatu gambaran campuran dari apa yang kita pikirkan, bagaimana pendapat orang lain mengenai diri kita dan seperti apa yang kita inginkan, konsep diri adalah pandangan individu mengenai siapa individu tersebut bisa diperoleh lewat informasi yang diberikan orang lain.


Penilaian terhadap diri sendiri memang gak pernah cukup, terkadang penilaian dari oranglain, baik atau buruknya membuat kita bisa ngaca lagi, setiap kita punya cermin masing-masing, bagaimana kita memandang diri kita sebagai personal. Memang terkadang perlu mendapatkan validasi dari orang lain, itu artinya kamu berhasil menunjukkan kamu siapa, tentunya dengan syarat validasi yang diberikan memang sesuai dengan nilai (value) kamu sebenarnya.  Artinya seperti ini, pernah gak memandang diri sendiri dari sudut pandang orang lain? memang benar kita adalah apa yang kita lihat dengan mata kepala kita sendiri, tapi tetap gak lupa pandangan orang lain juga PENTING pengaruhnya terhadap pandangan  kita. Sorry to say, kita gak bisa lihat pantat, punggung, tengkuk, bahkan ubun-ubun yang ada di dekat mata kita, ya gak? Nah, itulah gunanya mensosialisai diri kita dengan orang lain, dengan cara berinteraksi, saling berbagi, mengingatkan, hardik, tegur, dll. Mending masih ada yang mengingatkan, daripada mereka hanya memandang tapi tak berbicara dan hanya tersenyum iblis #eh. mungkin inilah fungsi kepedulian dengan sesama, respon dan respect. meskipun kadang atau bahkan sering pandangan mereka berbeda dengan persepsimu, paling gak perbedaan pandangan tersebut bisa buat kamu review balik persepsimu, untuk ya ng lebih baik.
Lupa namanya ceritanya, jaman dulu kisah romawi. alkisah hiduplah seseorang pemuda oh iya baru aja browsing tadi namanya itu Narcissus, pemuda yang sangat rupawan, yang setiap harinya hanya memandang dirinya dari sudut pandang diri sendiri, karena memang pada saat itu dia memang jauh dari keramaian, dan hanya tinggal seorang diri. Setiap saat waktunya terlalu sibuk dihabiskan (hanya) memandang dirinya sendiri dari pantulan air sungai, (secara dulu belum ada cermin). Malangnya, saking terlalu asik memandangi diri sendiri dengan cerminannya yg terlihat dipantulan air sungai, ingin dirinya mencium diri sendiri. Kasian, keinginannya yang kuat mencium bayangannya sendiri membuat dirinya kehilangan "keseimbangan", jatuh hanyut dan hilang. So, intinya adalah belajarlah berenang... Eh bukan... *just kidding :D




Ya setiap orang punya kesimpulan, dan cerminan masing-masing terhadap dirinya. Tapi nilai itu akan bertambah jika seseorang ada yang mengingatkan. tetap berpikir positif terhadap pandangan orang lain terhadap diri kita,  tetap berpikir positif karena hal itu yang akhirnya akan mampu mengubah konsep diri kearah positif. 

About me? Whatever i do, whatever i say, people will always find something to say, and it would be greatly appreciated :], When someone saying bad about me, it make me more awesome. coz it make me improve a lot  - Charmerciello

Senin, 12 November 2012

Sebenarnya kamu di PHP-in gak sih?




PHP atau pemberi harapan palsu, sejenis janji-janji palsu ditawarkan ke seseorang tapi nggak bisa ditepatin. Atau udah bikin janji, tapi bikin janji lagi dengan orang lain dan ngerasa orang yang lain itu lebih cocok dari pada orang yang kita janjiin pertama kali. Contoh sederhananya seperti itulah. Istilah PHP mungkin sudah gak asing lagi ditelinga kamu, istilah yang dipopulerkan oleh anak remaja yang (katanya) gaul, PHP dikaitkan dengan paradigma yang (katanya) menipu yang tega-teganya menipu korban php (ditipu). Istilah PHP muncul dengan adanya fenomena rasa dikecewakan, merasa diberi harapan palsu (Merasa ditipu).


Tulisan ini aku tujukan kepada kalian wahai jiwa-jiwa yang penuh harapan (ngarep) sama seseorang.  Jadi masalahnya disini, banyak yang aku lihat orang-orang diluar sana yang dapet julukan si Pemberi Harapan Palsu, julukan yang dibuat oleh orang-orang yang merasa dikecewakan, dan (mungkin) sampai sekarang mereka yang merasa dikasi harapan belum bebas dari janji-janji yang mereka anggap manis, padahal kejadian itu sudah lama berlalu. Anyway forget it.. back to topic.

Menipu adalah tindakan yang salah, sama halnya dengan orang yang tertipu, sebenarnya mereka juga salah  tapi pada porsi yang berbeda.. Kenapa terlalu ngarep? dan akhirnya keyakinan yang kamu bangun dengan ekspektasi yang berlebihan itu membawamu kepada kekecewaan. Siapasih yang gak mau disenangin, dikasi harapan, dikasi janji. Kenyataannya kamu terlalu berharap dan kecewa. Kebanyakan yang menjadi korban php adalah mereka yang membutuhkan (ngarep), karena pada dasarnya manusia ngarep itu memang senang diberikan keyakinan atas harapannya. Dengan segala upaya si PHP akan berusaha MENYENANGKAN si korban, dengan memberikan HARAPAN sesuai KEINGINAN si korban, walaupun sebenarnya gak seperti itu juga, tapi si PHP selalu menawarkan, semacam "PENYOGOKAN" hati :D

Anyway, sering terjadi, ketika kamu punya keinginan pada pasanganmu, tapi belum dapat dipenuhinya, lalu kamu kamu ngambek-sengambeknya, marah atau bahkan sampai ngedrama. ngedrama (merajuk lebay), Satu2nya cara seorang PHP yang mereka tahu  hanya menyenangkan perasaanmu ya dengan meng-iya-kan semua apa yang kamu inginkan. (Terpaksa ngasi harapan, karena memang gak ada ruginya ngasi harapan). Ketika si php meng-iya-kan apa yang diinginkan si calon korban, secara otomotis ekspektasi si korban akan semakin berlebihan tentang sebuah keinginan. Misalnya, kamu pengen banget nonton konser korea, tapi pasanganmu gak bisa..tp kamu tetap maksa dan ngambek. Mau gak mau harus nurutin kamu. 

Makanya aku bilang tadi, porsi kesalahan seseorang php dan korbannya tidak jauh berbeda. Sama-sama salah sih, Seharusnya kamu gak terlalu berharap biar gak kecewa, berharap boleh,, tapi kamu juga harus punya solusi kalo keinginanmu gak sesuai harapan. Kamu berusaha setia menjaga hubungan, kenyataan pahit akhirnya dia selingkuh dan pergi, kamu seharusnya beruntung putus sama dia, daripada kalian sampai kejenjang pernikahan? 

Berpalingnya seseorang yang pernah kau sayangi keorang lain, sebenarnya patut menjadi intropeksi bagi diri sendiri utk menjadi yg lebih baik. Kamu merasakan sudah melakukan yg terbaik, tapi tetap gak cukup buat dia.. Why so serious? Masih banyak org yg baik lain yg patut menerimanya. Istilah php dibuat hanya sekedar menyenangkan EGO mu, ngejudge seseorang penipu. Seharusnya mikir "kenapa aku tertipu?" Apa kamu sudah memberi segalanya, ketika kamu ditinggalkan sama seorang PHP kamu merasa rugi ditinggalin, banyak kejadian seperti ini telah memberikan segalanya dan akhirnya kecewa. Cuma mengingatkan, jangan pernah memberikan hal yang "paling berharga" dari dirimu, buat seseorang yang cuma ngasi harapan samamu.

"The benefit of working on becoming a better you is that you become a better partner too." ~ Susan Dutton
 
Dalam sebuah relationship itu adalah hubungan kerjasama, dan semua dilakukan dengan sukarela ujung-ujungnya bisa meminimalisir perasaan kecewa. Berusaha cerdas dalam sebuah relationship, kalaupun merasa tertipu ada baiknya janganlah bego banget. Jangan terlalu berharap kalau gak mau kecewa, seorang yang cerdas gak mudah tertipu. Jangan meletakan keyakinanmu, untuk suatu hal yang belum kamu ketahui, yang suatu saat akan membuatmu kecewa.

With Love - Charmerciello